RSS

Revolusi Sosial Cirebon 1946

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penulisan

Selagi negara baru Indonesia mencoba menyatakan kekuasannya, muncul tantangan dari berbagai kelompok yang berusaha menerapkan visi mereka sendiri mengenai apa itu Indonesia apa yang diwakili Indonesia. Rasa krisis, peningkatan gairah, euforia, dab harapan menyebabkan munculnya banyak sekali kelompok dengan aneka tujuan, semuanya berharap memanfaatkan semangat yang tak terkendali dan membawakan berbagai kemungkinan. Beberapa memang berniat mulia tapi menggunakan cara-cara kasar; yang lain hanya gerombolan begundal dan kriminal. Perseturuan antara peralihan peraturan dan politik kemerdekaan yang sangat ekspresif terwujud tidak hanya dalam kepahlawanan fanatik, gagah berani, tetapi juag di beberapa daerah terjadi apa yang dinamakn dengan “revolusi sosial”, salah satunya adalah revolusi sosial yang terjadi di Kota Cirebon pada tahun 1946 (Elson, 2008: 185:186).

Kurangnya tulisan yang membahas menganai revolusi sosial di Jawa Barat pada umumnya dan Kota Cirebon pada khususnya ini menimbulkan rasa ketertarikan saya mengkaji lebih dalam peristiwa tersebut ke dalam makalah ini. Dengan memperhatikan pertimbangan tersebut maka saya mengangkat makalah ini dengan judul Revolusi Sosial di Cirebon: Pemberontakan Mr. Yusuf 12 - 14 Februari 1949”.


1.2. Rumusan Masalah

Dalam penulisan makalah ini saya membuat beberapa rumusan masalah yang menjadi pokok pembahasan. Rumusan masalah dapat membatasi pembahasan agar tidak melebar. Adapun rumusan masalah yang kami tetapkan adalah bagaimana:

1. Later Belakang Terjadinya Pemberontakan Mr. Yusuf?

2. Jalannya pemberontakan yang dilakukan Mr. Yusuf?

3. Dampak Pemberontakan Mr. Yusuf terhadap kehidupan sosial masyarakat Kota Cirebon?

1.3. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penulisan karya ilmiah ini adalah untuk menjawab rumusan masalah di atas, yakni dapat menjelaskan:

1. Later Belakang Terjadinya Pemberontakan Mr. Yusuf;

2. Jalannya pemberontakan yang dilakukan Mr. Yusuf;

3. Dampak Pemberontakan Mr. Yusuf terhadap kehidupan sosial masyarakat Kota Cirebon.

1.4. Metode Penulisan

Adapun penulisan makalah yang saya buat ini adalah dengan menggunakan metode analisis kritis. Penulisan dilakukan dengan mengumpulkan sumber-sumber yang relevan, baik itu sumber tertulis maupun sumber lisan yang berupa wawancara terhadap tokoh yang terlibat dalam peristiwa ini. Pengkritikan terhadap kebenaran sumber tersebut baik kritik eksternal maupun kritik internal; Menginterpretasikan sumber-sumber yang didapat, dan menyusunya dalam sebuah historiografi.

1.5. Sistematika Penulisan

Untuk menguraikan isi dari makalah ini, saya membuat sistematika penulisan untuk mempermudah pembaca dalam memahami isi makalah. Dimulai dengan kata pengantar kemudian dilanjutkan dengan Bab 1 Pendahuluan, Bab 2 Pembahasan, Bab 3 Kesimpulan, dan terakhir Daftar Pustaka.

Dalam Bab 1 Pendahuluan berisi latar belakang masalah yang menjadi pendorong dibuatnya makalah ini, rumusan masalah sebagai batasan kajian, tujuan penulisan makalah yang ingin dicapai dari penulisan, metode penulisan yang digunakan dalam penelitian, dan sistematika penulisan.

Dalam bab dua berisi landasan teoritis mengenai revolusi dan revolusi sosial. Bab tiga berisikan pembahasan tentang later belakang terjadinya pemberontakan Mr. Yusuf, jalannya pemberontakan yang dilakukan Mr. Yusuf, dampak Pemberontakan Mr. Yusuf terhadap kehidupan sosial masyarakat Kota Cirebon. Dalam bab tiga ini berisi kesimpulan dari isi materi diakhrir dengan Daftar Pustaka.

BAB 2

TINJAUAN TEORITIS

Secara umum revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan. Ukuran kecepatan suatu perubahan sebenarnya relatif karena revolusi pun dapat memakan waktu lama (http://id.wiki.detik.com).

Sztompka (2005; http://blog.unila.ac.id) memberikan gambaran bahwa revolusi merupakan puncak dari perubahan sosial. Revolusi merupakan sebuah proses pembentukan ulang masyarakat sehingga menyerupai proses kelahiran kembali. Perubahan yang terjadi melalui revolusi mempunyai cakupan yang luas dan menyentuh semua tingkat dan dimensi masyarakat. Perubahan akibat revolusi bersifat radikal, fundamental dan menyentuh langsung pada inti dan fungsi dari struktur sosial. Proses perubahan tersebut hanya memerlukan waktu yang cepat, sesuatu yang bertolak belakang dengan konsep evolusi pada perubahan sosial.

Revolusi mempunyai dua wajah yang saling bertolak belakang. Wajah pertama menggambarkan revolusi sebagai sebuah mitos, sedangkan wajah kedua memberikan gambaran revolusi sebagai sebuah konsep dan bahkan teori dalam ilmu sosiologi. Kedua wajah ini mempunyai kesaling terkaitan bahkan dialektika diantara keduanya menjadi suatu bentuk kewajaran

Terdapat empat aliran dalam teori revolusi, yaitu tindakan, psikologi, struktural dan politik. Aliran tindakan disampaikan oleh Sorokin yang menitikberatkan pengamatan pada peran tindakan individu dalam revolusi. Secara garis besar terdapat dua kondisi yang mendorong terjadinya revolusi, yaitu tekanan dari bawah dan kelemahan dari atas.

Aliran psikologi mengabaikan tindakan reflek atau naluriah dan beralih pada bidang orientasi sikap dan motivasi. Revolusi disebabakan sindrom mental yang menyakitkan yang terbesar di kalangan rakyat, diperburuk karena menjangkiti banyak orang sehingga memotivasi perjuangan kolektif untuk meredakannya.

Teori struktural memusatkan pada tingkat struktur makro dengan mengabaikan faktor psikologi. Revolusi adalah hasil hambatan dan ketegangan struktural dan terutama bentuk hubungan khusus tertentu antara rakyat dengan pemerintah. Revolusi dicari penyebabnya berdasarkan konflik antar kelas, antar kelompok.

Teori Politik melihat revolusi sebagai sifat fenomena politik yang muncul dari proses yang khusus terjadi di bidang politik. Revolusi dilihat sebagai akibat pergeseran keseimbangan kekuatan dan perjuangan perebutan hegemoni antar pesaing untuk mengendalikan negara.

Revolusi dianggapnya sebagai wujud dari perubahan sosial yang paling spektakuler, yang merupakan suatu pertanda perpecahan mendsar suatu proses histories, pembentukkan ulang masyarakat dari dalam, dan pembentukan ulang manusia. Revolusi tidak menyisakan apapun seperti keadaannya sebelumnya. Revolusi menutup epos lama dan membuka epos baru. Di saat terjadi suatu perubahan sosial besar, suatu revolusi, masyarakat mengelami puncak agenya. Bagi Sztompka pada saat itulah terjadi meledaknya potensi transormasi dirinya sendiri.

Secara ringkas Sztompka juga memberikan kerangka definisi tentang revolusi yang dikerucutkan dari beberapa ahli seperti C. Johnson (1968), Gurr (1970), Giddens (1989) yang pada akhirnya menemukan tiga komponen utama yang mendasar dari revolusi yaitu:

1. Revolusi mengacu pada perubahan fundamental, menyeluruh dan multidimensional, menyentuh inti tatanan sosial.

2. Revolusi melibatkan massa rakyat yang besar jumlahnya yang dimobilisasi dan bertindak dalam satu gerakan revolusioner. Seperti yang terjadi di Jepang dengan restorasi Maiji, revolusi Attaturk di Turki, Reformasi Nasser di Mesir, Perestorikanya Gorbachev).

3. Revolusi memerlukan keterlibatan kekerasan dan penggunaan kekerasan. Walaupun ada proses revolusi di India oleh Ghandi atau gerakan sosial di Eropa Timur dan Tengah yang memaksa kematian komunisme. Seperti juga revolusi damai Solidaritas di Polandia dan revolusi Beludru di Ceko.

Proses selanjutnya dari revolusi adalah suatu tatanan masyarakat yang seperti dihidupkan kembali, harapannya adalah dengan revolusi terjadi suatu perubahan yang lebih baik, dan masyarakat menemukan kesejahteraannya. Menurut Sztompka revolusi merupakan suatu proses perubahan sosial yang paling tinggi dan menimbulkan dampak yang luar biasa jika dibandingkan dengan proses perubahan sosial yang lainnya, yaitu:

1. Menimbulkan perubahan dalam cakupan terluas, menyentuh semua tingkat dan dimensi masyarakat, seperti: ekonomi, budaya, politik, organisasi sosial, kehidupan sehari-hari masyarakat, dan perubahan kepribadian manusianya. perubahan yang terjadi dan dihadilkan adalah perubahan yang menyentuh inti dari bangunan dan fungsi sosial masyarakatnya.Jika proses kesejarahan dianggap sebagai suatu proses yang relative lambat, maka proses revolusi merupakan suatu proses perubahan yang terjadi sangat cepat, tiba-tiba, seperti ledakan bom atom.

Dalam seni pertunjukkan proses perubahan yang terjadi dalam bingkai revolusi merupakan suatu pertunjukkan perubahan yang paling menonjol, waktunya luar biasa cepat, dan karena itu sangat mudah diingat.

2. Revolusi dapat membangkitkan emosional khusus dan reaksi intelektual pelakunya dan mengalami ledakan mobilisasi massa, antusiasme, kegemparan, kegirangan, kegembiraan, optimisme dan harapan, perasaan hebat dan perkasa, keriangan dan aktivisme dan menggapai kembali makna kehidupan, melambungkan aspirasi dan pandangan utopia ke masa depan. Revolusi terjadi secara tidak merata di sepanjang sejarah. Kebanyakan terjadi dalam periode modern. Revolusi Besar seperti di Inggris pada tahun 1640, revolusi perancis pada tahun 1789 yang melahirkan epos modern, revolusi komunis di Rusia pada tahun 1917 dan di Cina pada tahun 1949, dan revolusi yang anti komunis di Eropa Timur, dan Tengah pada tahun 1989 revolusi ini mengakhiri periode komunis.

Sztompka (2005; http://blog.unila.ac.id) menjelaskan revolusi sosial kedalam lima hal yaitu; (1) menimbulkan perubahan dalam cakupan terluas, menyentuh semua tingkat dan dimensi masyarakat, (2) dalam semua bidang tersebut perubahannya radikal, fundamental, menyentuh inti bangunan dan fungsi sosial, (3) perubahan yang terjadi sangat cepat, tiba-tiba, (4) membangkitkan emosional khusus dan reaksi intelektual pelakunya dan mengalami ledakan mobilisasi massa, antusiasme, kegirangan, kegembiraan, optimisme, dan harapan.

Berbagai konsep revolusi yang telah disampaikan di depan mempunyai sebuah gagasan yang sama yaitu sebagai bentuk perubahan sosial yang dahsyat dan bersifat fundamental dalam merubah tatanan masyarakat dalam waktu yang relatif cepat. Terdapat faktor pencetus yang menyebabkan revolusi dapat berjalan dalam suatu masyarakat. Berbagai teori menyampaikan pendapatnya tentang faktor penyebab ini, namun kesemuanya dapat disimpulkan sebagai sebuah hasil dari ketidakadilan dalam masyarakat. Kondisi ketidakadilan atau penyimpangan inilah yang melahirkan semangat revolusi.

Akibat dari revolusi secara garis besar dapat dilihat dari tumbangnya penguasa lama dan digantikannya oleh tatanan penguasa baru. Selain merubah tatanan kepemimpinan, revolusi mampu merubah segala aspek kehidupan masyarakat

BAB 3

REVOLUSI SOSIAL DI CIREBON:

PEMBERONTAKAN MR. YUSUF 12 - 14 FEBRUARI 1949


3.1. Later Belakang Terjadinya Pemberontakan Mr. Yusuf

Secara umum Elson (2008: 186) menggambar secara umum mengenai latar belakang terjadinya pemberontakan Mr. Yusuf seperti yang disebutkan dalam penggalan kalimat berikut ini:

“Gerakan-gerakan seperti itu berusaha menghancurkan masa lalu yang kolot, serbateratur, aristokratik, dan menindas berikut segala perangkatnya, mempermalukan dan menghina para pemegang kekuasaan, serta menggantikan masa lalu itu dengan masa depan yang berani, romantik, dan egaliter”.

Ricklefs (2008: 457) juga menyebutkan secara umum sebab-sebab trjandinya revolusi sosial “.... kebanyakan revolusi sosial diakibatkan oleh persaingan antara elit-elit alternatif, kelompok-kelompok kesukuan dan kemasyarakatan atau antargenerasi; struktur-struktur kelas sosial kurang penting”.

Menurut Tan Malak (Fahsin, 2005: 118), revolusi ini rerjadi akibat dari tidak harmonisnya pertentangan kelas. Tajamnya pertentangan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya ekonomi, politik, sosial, dan psikologi. Namun, lebih lanjut mengenai latar belakang terjadinya revolusi sosial di Kota Cirebon ini, Bapak Kusnan Kusumaatmadja (salah seorang tokoh yang terlibat dalam usaha penumpasan pemberontakan Mr. Yusuf) mengatakan bahwa revolusi ini dilatar belakangi oleh keinginan pihak PKI untuk merobohkan kekuasaan pemerintah RI di Kota Cirebon. Hal ini dilakukan PKI dengan alasan bahwa pemerintah yang ada pada saat itu adalah pemerintahan yang dibentuk oleh Belanda.

3.2. Jalannya Pemberontakan

Dalam buku Siliwangi dari Masa ke Masa (1979) dijelaskan bahwa pada bulan Februari 1946 PKI berniat mengadakan suatu konferensi di Gedung Bioskop “Rex” Cirebon. Menjelang konferensi itu, Laskar Merahnya yang pada waktu itu dipersenjatainya lebih lengkap daripada TRI setempat, mulai merajalela di Kota Cirebon. Cara mereka saling menghormati atau memberi salam itu ialah dengan mengangkat tangan kiri dikepalkan serta menyerukan “Hidup Soviet”. Jauh berbeda dengan salam Nasional kita yang lazim pada waktu itu ialah dengan mengangkat tangan kanan dikepalkan sambil menyerukan “Merdeka!”.

Tindakan mereka semakin memuncak lagi ketika rombongan PKI dan Laskar Merah di bawah pimpinan Mr. Yusuf yang diangkut dengan kereta api dari arah Surabaya sebanyak formasi 10 gerbong, tiba di stasiun Kejaksan Cirebon. Dengan dalih bahwa Polisi Tentara dan TRI Kereta Api hendak melucuti senjata mereka, yang terdiri atas senjata-senjata ringan termasuk senapan-senapan mesin, mereka melucuti senjata-senjata para petugas di stasiun tersebut. Komandan Polisi Tentara yang mendengar tentang peristiwa itu, segera mengutus seorang perwiranya Letnan II D. Sudarsono ke markas laskar Merah yang berkedudukan di depan Balaikota (sekarang) untuk meminta penjelasan lebih lanjut. Ternyata mereka memperlakukan perwira Polisi Tentara itu dengan tidak sepantasnya, sehigga Letnan Sudarsosno kemudian menuju stasiun. Di tikungan menjelang stasiun, Polisi Tentara itu tiba-tiba dilucuti senjatanya setelah diperintahkan untuk turun dari kendaraannya oleh segerombolan orang-orang bersenjata di bawah pimpinan Mr. Yusuf.

Di stasiun ia mendapatkan penjelasan dari petugas Polisi Tentara- Sersan Wasji selaku Komandan Regu, Sersan Kusnan dan Kopral Ihsan- bahwa mereka dituduh hendak melucuti senjata-senjata Laskar Merah. Petugas Polisi Tentara di stasiun tersebut akhirnya dibawa dengan paksa ke Markas Batalyon Polisi Tentara untuk dilucuti persenjataanya dan menawan anggota Polisi Tentara tersebut.

Di pihak lain terpetik kabar, bahwa Laskar Merah di bawah pimpinan Mr. Yusuf akan melancarkan serangannya terhadap kedudukan TRI di Cirebon dan akan mengambil alih kekuasan pemerintahan dalam kota, serangan tersebut akan dilaksanakan pada tanggal 13 Februari 1946 dini hari. Dan kegiatan persiapannya memang telah nampak sekali (Dinas Sejarah TNI-AD, 1985: 68).

Resimen TRI Cirebon dibawah pimpinan Muffreini tidak tinggal diam melihat perkembangan-perkembangan yang berlangsung itu. Pada tanggal 12 Februari 1946 TRI mengerahkan segenap senjata yang ada untuk mengepung markas PKI/Laskar Merah di Hotel Lebrinck. Setelah terjadinya pertempuran, pihak Resimen TRI terpaksa mengundurkan diri mengingat keadaan kekuatan senjata yang tidak berimbang.

Akan tetapi Resimen Cirebon (TRI) ini tidak patah semangat. Semua kekuatan senjata yang ada di wilayahnya dikonsolidasikan. Bantuan-bantuanpun datang dari Tegal, Pekalongan, bahkan dari Militer Akademi Tanggerang. Setelah segala sesuatunya siap, maka dilakukan serangan yang kedua pada tanggal 14 Februari 1946.

Sasaran utamanya adalah Hotel Leebrinck. Pertempuran juga terjadi pula di Kejaksan dan di dua tempat di Cangkol. Akhirnya Markas PKI/Laskar Merah menaikan bendera putih, menyerah. Mr. Yusuf berhasil ditangkap hidup-hidup, dan diadili di Pengadilan Tentara dibawah pimpinan Mayor Rivai dengan hukuman empat tahun lamanya.

3.3. Dampak Pemberontakan Mr. Yusuf terhadap kehidupan sosial masyarakat Kota Cirebon

Dampak yang ditimbulkan dari adanya pemberontakan Mr. Yusuf bagi masyarakat Kota Cirebon sendiri adalah terjadinya integrasi dan konsolidasi antara masyarakat dengan Polisi Tentara TRI. Hal ini dikarenakan masyarakat sadar, bahwa mereka memiliki “musuh bersama” yang dalam konteks ini adalah tindakan yang dilakukan Mr. Yusuf dan Laskar Merah sangat merugikan bagi masyarakat. DISJAM DAM IV/Siliwangi (1979: 66) menggambar secara jelas perilaku Mr. Yusuf dan Laskar Merah seperti petikat kalimat berikut:

“Tingkah laku serta tata krama yang mereka demonstrasikan ketika itu, tidaklah sesuai dengan tata-kesopanan yang biasanya dilakukan oleh bangsa Indonesia. Mereka seolah-olah ingin menunjukkan bahwa merekalah yang paling besar sahamnya dalam Revolusi Indonesia. Lihat saja persenjataan mereka!”.

Selain itu berdasarkan tulisan DISJAM DAM IV/Siliwangi (1979: 66) dapat disebutkan beberapa contoh dari ketidaksopanan mereka, seperti:

1. Bila mereka merasa lapar, maka didatangilah warung-warung yang banyak tersebar di Kota Cirebon. Dengan angkuhnya mereka memesan makanan yang mereka kehendaki untuk kemudian memakannya dengan penuh lahap. Setelah perutnya kenyang, mereka kemudian berdiri sambil tulak pinggang serta tidak langsung memperlihatkan atau menunjukkan senjata yang mereka miliki. Bila mereka ditanya mengenai pembayarannya, maka dengan penuh keangkuhan dan mata melotot, mereka menjawab: “Buat apa bayar kalau membawa senjata....”

2. Di samping “kegagahan” mereka demonstrasikan terhadap warung-warung nasi, merekapun seenaknya melakukan perbuatan-perbuatan yang amoral terhadap Wanita Tuna Susila yang memang tidak sedikit jumlahnya di Cirebon ketika itu. Di sinipun mereka menggadakan “machtsvertoon” dengan menggunakan kekerasan senjata seperti halnya yang mereka lakukan terhadap warung-warung.

3. Guna memenuhi kebutuhan rokok mereka, maka mereka dengan seenaknya saja mendatangi Pabri Rokok B.A.T. untuk kemudian secara paksa meminta rokok yang mereka perlukan.

BAB 4

PENUTUP


4.1. Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pemberontakan Mr. Yusuf di Kota Cirebon 12-14 Februari 1946 dikarenakan pihak PKI untuk merobohkan kekuasaan pemerintah RI di Kota Cirebon. Pemberontakan ini berlangsung dari tanggal 12 – 14 Februari 1946 dan dapat ditumpas dengan usaha para TRI yang dibantu dengan masyarakat Kota Cirebon sendiri, Mr. Yusuf sendiri akhirnya diadili di Pengadilan Militer Kota Cirebon dan mendapatkan hukuman selama empat tahun. Dampak sosial yang diakibatkan dari pemberontan ini adalah terjadinya konsolidasi, baik itu sesama TRI Kota Cirebon, antar TRI di Jawa Barat, maupun masyarakat Kota Cirebon dengan TRI sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Dinas Sejarah TNI-AD. (1985). Komunisme dan Kegiatannya di Indonesia. Kota dan Penerbit tidak tercantum.

DISJAM DAM IV/Siliwangi. (1979). Siliwangi dari Masa ke Masa (Edisi kedua). Bandung: Angkasa.

Elson, Robert Edward. (2008). The Idea of Indonesia: Sejarah Pemikiran dan Gagasan. Jakarta: PT. Serambi Ilme Semesta.

Fahsin, M. Fa’al. (2005). Negara dan Revolusi Sosial: Pokok-pokok Pikiran Tan Malaka. Yogyakarta: Resist Book.

Ricklefs, M. C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2008. . Jakarta: PT. Serambi Ilme Semesta.

SUMBER INTERNET

Erwansyah. (2009). Teori Revolusi [Online]. Tersedia: http://blog.unila.ac.id/rone/tag/revolusi/. [23 Oktober 2009].

_____. (2009). Uraian Materi Kegagalan Pemberontakan Partai Komunis Indonesia [Online]. Tersedia: http://fnonk.wordpress.com/2009/01/09/uraian-materi-kegagalan-pemberontakan-partai-komunis-indonesia/. [23 Oktober 2009].

_____. (___). Monumen Pancasila Sakti [Online]. Tersedia: http://www.sejarahtni.mil.id/index.php?cid=1827&page=15. [19 Oktober 2009].

_____. (___). Revolusi [Online]. Tersedia: http://id.wiki.detik.com/wiki/Revolusi. [23 Oktober 2009].

WAWANCARA

Kusnan Kusumaatmaja, Ketua Dewan LPRI Kota Cirebon (10 Oktober 2009).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar